MetroIslam.com – Apa hubungan Donald Trump dengan Sheikh Jalaluddin Rumi? Jawabannya, tidak ada. Baik itu hubungan pertemanan, persahabatan, dan apalagi kekeluargaan. Bahkan, mungkin, Donald Trump juga tidak pernah  mengetahui siapa Maulana Sheikh Jalaluddin Rumi. Apalagi membaca puisi-puisinya.

Donald Trump adalah Presiden AS  kini. Berbagai kebijakannya — yang telah ia umbar semasa kampanye — banyak yang kontroversial.  Ada yang setuju, namun banyak juga  yang menolak. Yang paling kontroversial adalah kebijakannya yang melarang warga dari tujuh negara — Suriah, Somalia, Irak, Iran, Libya, Sudan, dan Yaman — masuk ke AS. Ketujuh negara ini dihuni mayoritas Muslim.

Menurut Trump, kebijakannya melarang Muslim masuk ke AS untuk melindungi negaranya dari ancaman teroris. Dengan kata lain, setiap Muslim, terutama dari tujuh negara tadi, yang masuk ke AS ia anggap berpotensi menjadi teroris. Karena itu, Trump pun perlu mengganti istilah ‘ekstrimis radikal’ yang digunakan semasa Presiden Barack Obama dengan ‘teroris Islam’. ‘’Keamanan nasional dalam ancaman teroris Islam,’’ kicau Trump di akun Twitternya.

Kebijakan Trump memang kemudian dibatalkan oleh Hakim Federal di Seatle dan
diperkuat oleh Pengadilan Banding AS (US Court of Appeals for the 9th Circuit) di Kota San Fransisko, California. Menurut mereka, larangan warga Muslim masuk ke AS adalah ilegal dan inkonstitusional. Larangan ini sebagai bentuk diskriminasi terhadap manusia karena agama mereka.

Yang menarik, pernyataan dan kebijakan Trump yang ‘membenci Islam dan Muslim’ ini ternyata justeru membuat menasaran banyak warga AS sendiri. Sama seperti peristiwa serangan ke Menara Kembar Word Trade Center di New York pada 11 September 2001 — kemudian dikenal dengan Peristiwa Nine Eleven. Berbagai pertanyaan terkait dengan Islam dan umat Islam pun muncul. Di antaranya, apakah agama yang dipeluk oleh lebih dari 1,6 miliar di dunia itu benar-benar mengajarkan kekerasan?  Apakah ISIS dan Al-Qaeda mewakili Islam dan umat Islam? Berikutnya, apakah Islam tidak mengajarkan kelembutan budi, akhlak mulia, cinta, dan kasih sayang kepada sesama?

Sebagai jawabannya, berbagai literatur mengenai Islam pun banyak mereka kaji. Karya-karya besar para ulama mereka terjemahkan. Di antara yang mereka gandrungi kini adalah karya-karya Maulana Sheikh Jalaluddin Rumi, seorang ulama, filsuf, dan sekaligus penyair sufi, kelahiran 1207 M.

Media internasional berbahasa Arab yang terbit di London, al Sharq al Awsat, menyebutkan, karya-karya Rumi mulai digandrungi masyarakat Amerika sejak peristiwa Nine Eleven dan mencapai puncaknya seiring dengan munculnya Donald Trump. Dua pekan lalu surat kabar The Washington Post mepertanyakan, ‘’Bukankah suatu hal yang mengejutkan, karya-karya Rumi, filsuf dan penyair Muslim abad 13, justeru banyak dibeli orang seiring dengan munculnya bintang Trump?’’

Koran terbesar dan tertua di Washington itu menambahkan, seandainya Rumi hidup kembali ia akan melihat bagaimana orang-orang Amerika tidak pernah bosan membaca puisi-puisi dan syairnya. Meskipun, Trump menyatakan tentang pengusiran orang-orang Islam dari Amerika dan melarang mereka masuk ke negaranya.

Sedangkan surat kabar Los Angeles Times menyatakan, sebagaimana karya sastra  Omar Khayyam, puisi-puisi spiritual Rumi sangat digemari di pesta-pesta pernikahan, perayaan pubertas, dan upacara-upacara pemakaman. ‘’Ada semacam kabut di depan mata kita yang membawa kita kembali ke zaman keemasan Islam.’’

Koran Chicago Tribune berkomentar, jika Edward Said kembali hidup ia akan menertawakan, seperti biasanya, tentang kesumpekan (terhadap Trump —pen) yang membuat kita mengagumi bait-bait puisi sebelum 700 tahun itu. Said merupakan intelektual Palestina-Amerika (1935-2003).

Menurut Jane Ciabattari dalam artikelnya di BBC Culture, karya-karya Rumi telah terjual jutaan eksemplar dalam beberapa tahun terakhir. Terutama sejak munculnya Trump. Fakta ini telah membawa Rumi menjadi penyair paling populer di Amerika. ‘’Secara global, para penggemarnya sangat banyak,’’ tulis Ciabattari. ‘’Dia sosok yang menarik di semua budaya,’’ lanjutnya mengutip Brad Gooch, penulis terkenal biografi Rumi.

Jalaluddin Rumi yang hidup pada abad 7 H atau 13 M merupakan penulis karya monumental Diwan al Masnawi yang di dalamnya terdapat 26 ribu bait puisi. Ia pendiri Tarikat Sufi al Maulawiyah — diambil dari Maulana Jalaluddi Rumi. Dari tarikat ini kemudian lahir tradisi tarian sufi yang sangat terkenal bernama Darwisy. Juga gerakan-gerakan sufi lainnya.

Rumi lahir di Balkh, Afghanistan, kemudian mengembara ke Baghdad, Damaskus, dan lalu menetap di Turki pada masa Dinasti Saljuk hingga meninggal dunia. Makamnya tiap hari diramaikan oleh para peziarah. Di Damaskus, ia bertemu dengan Sheikh Muhyiddin al ‘Araby, penulis kitab sufi ‘al Futuhat al Makkiyah’. Al ‘Araby — yang hijrah dari Andalusia ke Damaskus — di kemudian hari banyak memberi pengaruh para karya-karya sufi Rumi.

Di Turki, Rumi berteman dengan Sheikh Syamsuddin at Tabrizy, penulis kitab ‘ad Diwan al Kabir’ yang di dalamnya terdapat 35 ribu bait puisi tentang kehidupan sufi dan kecintaan pada Sang Khalik. At Tabrizy telah mengubah Rumi menjadi sempurna dalam ilmu tasawuf.

Setelah at Tabrizy wafat, Rumi kemudian bertemu dengan Husamuddin Ghalabi, yang mengilhaminya untuk menuliskan pengalaman spiritualnya dalam karyanya yang monumental, Diwan al Masnawi . Ia mendiktekan karyanya tersebut kepada Ghalabi sampai akhir hanyatnya pada tahun 1273 M.

Beikut mari kita simak sebagian puisi Sheikh Rumi.
Hidup harus penuh  optimisme:
— Bahkan malam gelap akan berakhir, matahari akan bersinar lagi
— Kamu mencari harta selama hidupmu. Tetapi, kamulah sebenarnya harta itu

Lalu bagaimana pandangan Rumi tentang cinta?
— Cinta tidak bisa dijelaskan. Namun, cinta akan menjelaskan segalanya
— Kamu menari di dalam hatiku. Tidak ada yang melihat kamu di sana
— Dengan cinta, pahit jadi manis. Dengan cinta, tembaga jadi emas. Dengan cinta, sakit jadi obat

Hingga kini sudah tak terbilang buku-buku Rumi yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Termasuk yang berbahasa Inggris. Bahkan banyak puisi-puisi Rumi yang kemudian dijadikan lagu dan dinyanyikan oleh beberapa artis top Amerika, seperti Madonna,  Goldie Hawn, dan Demi Moore.

Pada 2007, bertepatan dengan peringatan 800 tahun kelahiran Jalaluddin Rumi, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) membagikan medali — atas nama Sheikh Rumi — kepada sejumlah tokoh dunia. UNESCO juga menyatakan telah mengadopsi pemikiran dan cita-cita Rumi.

Namun, mengutip sejumlah media, kegandrungan orang-orang Amerika terhadap karya-karya Maulana Sheikh Jalaluddin Rumi baru meningkat tajam sejak kedatangan Trump memimpin Amerika. Tepatnya sejak ia mencalonkan diri sebagai presiden.  Mereka menolak sikap dan pernyataan Trump yang penuh kebencian terhadap  Islam dan umat Islam, dan menggambarkan mereka sebagai pembuat onar. Sebagai penyebar paham kekerasan dan terorisme. Namun, setelah ‘mengadu’ kepada Maulana Sheikh Jalaluddin Rumi, sebagaimana ditulis media al Sharq al Awsat, orang-orang Amerika menemukan pada diri Rumi  tentang Islam yang mengajarkan cinta, kasih sayang, halus budi, dan menghargai sesama.

Source: www.republika.co.id

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar