MetroIslam.com – Selang sehari, setelah kekuatan utama ISIS di Suriah dan Irak berhasil ditumbangkan, rangkaian kejadian besar dan membahayakan pun masih terus berlanjut. Kali ini pertempuran di arahkan ke Lebanon. Rangkaian kejadian ini dimulai pada 4 Novemver, saat Arab Saudi mengguncang pemerintahan Lebanon dengan memaksa PM Hariri untuk mengundurkan diri. Setelah itu, pemerintah Saudi mengeluarkan klaim kelirunya pada 7 November, bahwa Lebanon telah mendeklarasikan perang melawan kerajaan Arab Saudi.

Dokumen rahasia yang diunggah oleh TV Israel Channel 10 menunjukkan bahwa provokasi perang ini sesungguhnya telah diatur oleh Arab Saudi dan Israel untuk memulai peperangan baru di kawan Timur Tengah, dengan Lebanon sebagai target. Provokasi ini dilakukan setelah latihan militer besar-besaran yang dilakukan oleh militer Israel pada September lalu, sebagai persiapan untuk invansi militer ke Lebanon dan menghancurkan Hizbullah. Latihan militer ini adalah latihan militer terbesar yang pernah digelar Tel Aviv dalam 20 tahun terakhir.

Di saat Washington menyebut Hizbullah sebagai kelompok teroris, tetapi faktanya kelompok inilah yang telah berusaha keras mempertahankan kedaulatan Lebanon dari rezim Israel dan hal ini pun diakui oleh kelompok Progresif di Timur Tengah. Hizbullah telah terbukti berhasil menendang Israel dari Lebanon, yaitu pada tahun 2000 dan 2006. Hizbullah telah bertempur bersama dengan pemerintah Suriah, tidak hanya untuk mencegah ekspansi Israel tetapi juga untuk melawan kelompok teroris ISIS.

Pada 3 November lalu, benteng terakhir ISIS di Irak dan Suriah berhasil ditumbangkan. Arab Saudi dan Israel telah bekerja sama untuk menumbangkan Suriah dan memberikan bantuan kepada ISIS.

Pada 4 November, terjadilah fenomena yang mengejutkan dunia internasional. Rezim Arab Saudi telah memaksa PM Lebanon, Saad Hariri, untuk mengundurkan diri dan mengumumkan niat tersebut melalui staisun TV Arab Saudi. Hariri menuduh Iran telah melakukan intervensi atas Lebanon dan mengklaim bahwa Hizbullah telah berusaha untuk membunuhnya.

Beberapa jam kemudian, Riyadh mengumumkan bahwa bahwa rudal Yaman telah menghantam ibu kota Arab Saudi. Padahal, selama beberapa tahun, rezim Saudi pun telah melakukan hal yang sama atas Yaman, bahkan telah menewaskan ribuan warga Yaman.

Pihak militer Yaman mengatakan bahwa rudal itu asli buatan mereka sendiri, tetapi Menlu Saudi, Adel Bin Ahmed mengklaim bahwa rudal itu pasti buatan Iran dan diluncurkan oleh Hizbullah.

Pada 7 November, Saudi semakin memperkeruh suasana dengan menuduh Lebanon telah menyatakan perang melawan kerajaan Arab Saudi.

Bersamaan dengan itu, Arab Saudi meringkus ratusan orang yang dianggap koruptor, termasuk para pangeran dan pengusaha.

Benang Merah Menunjukkan Kerjasama Saudi-Israel

Arus media mainstream sejak dulu telah memberitakan bahwa Israel dan Arab Saudi berada di kubu yang bertentangan. Inilah informasi yang dihidangkan kepada publik. Namun, kedua rezim baik itu Israel maupun Saudi, sama-sama dipersenjatai oleh Washington. Sehingga karena itu, mereka mampu meruntuhkan segala bentuk perlawanan yang terjadi di Timur Tengah dan menjaga kawasan kaya minyak itu agar tetap aman bagi Perusahaan Exxon Mobil dan JP Morgan Chase & Co, perusahaan minyak milik Amerika Serikat.

Pada 7 November, Israel menyampaikan pesan untuk para dubesnya di seluruh dunia agar fokus terhadap kasus Lebanon dan mendukung Arab Saudi. Pesan ini tentu saja merupakan bukti nyata atas kerja sama Israel-Arab Saudi, dua negara yang menjadi sahabat AS.

Pengunduran Diri PM Hariri, Lemahkan Lebanon

Di Lebanon, pengunduran diri PM Hariri yang dipaksa oleh Arab Saudi bertujuan untuk memantik gejolak di dalam tubuh pemerintah Lebanon. Hal ini akan memudahkan langkah Israel untuk melancarkan serangan ke negara itu. Banyak pihak yang menduga bahwa pernyataan yang disampaikan Hariri saat pengunduran diri itu kental dengan gaya dan dialek orang-orang Saudi. Pengunduran diri PM Hariri benar-benar mengejutkan semua pihak, bahkan orang-orang terdekat Saad Hariri. Militer Lebanon menolak adanya ancaman pembunuhan pada Perdana Menteri Lebanon tersebut.

Presiden Lebanon, Michel Aoun, telah mengumumkan bahwa dirinya tidak akan menerima pengunduran diri tersebut sebelum Saad al-Hariri kembali ke Lebanon dan menjelaskan alasannya. Pimpinan Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah, telah menyeru rakyat Lebanon untuk tetap tenang.

Mengapa Hizbullah yang Menjadi Target?

Israel, telah lama bercita-cita untuk merebut wilayah teritorial Lebanon. Bahkan, militer Israel telah membombardir wilayah bagian selatan Lebanon itu dari laut, darat, maupun udara selama beberapa dekade. Pada 1982, invasi masif militer Israel ke Lebanon telah menewaskan puluhan ribu warga Lebanon, dan saat itu militer Israel telah menduduki wilayah bagian selatan Lebanon selama 18 tahun. Pada 2006, bom-bom Israel kembali menghujani infrastruktur yang ada di Lebanon dan aksi biadab ini lagi-lagi telah menimbulkan kerusakan yang besar.

Israel berupaya untuk menghancurkan Hizbullah karena organisasi ini dianggap sebagai penghalang dalam kegiatan ekspansi militer tersebut. Para pejuang Hizbullah dan aliansinya berhasil menendang Israel dari Lebanon dan mengakhiri masa penjajahan yang telah berlangsung selama 18 tahun tersebut.

Minggu-minggu terakhir ini, Israel dan Arab Saudi menebarkan provokasi yang sangat berbahaya di Lebanon. Namun, keberhasilan imperialisme AS melalui Saudi dan Israel masih jauh dari kata pasti. Orang-orang Timur Tengah telah terinspirasi oleh banyaknya kemenangan melawan ISIS, dan karena itu tekad untuk memperjuangkan hak-hak mereka semakin membara.

Source: www.liputanislam.com

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar