MetroIslam.com – Ribuan umat Islam dari Kota/Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Cianjur yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Pemersatu Umat (GMPU) berunjuk rasa di Kantor Wali Kota Bogor. Mereka menolak pembangunan rumah ibadah yang ada di Tanah Baru, Kota Bogor.

Para pengunjukrasa yang datang ini berasal dari berbagai majelis taklim dan pondok pesantren Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Tak hanya itu, mereka datang ke balai kota Bogor dengan melakukan aksi longmarch dari 2 titik Bogor Timur (Depan Masjid Raya) dan Tanah Baru, Bogor Utara (Jalan Raden Kan’an).

Mereka mendesak Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bangunan yayasan dan masjid Imam Ahmad bin Hanbal, di Tanah Baru, Bogot Utara, Kota Bogor yang saat ini sedang dalam proses pembangunan karena dianggap menyalahi prosedur perizinan.
Saat menerima pengunjuk rasa, Wali Kota Bogor berjanji kepada warga akan meninjau perizinan masjid itu kembali. “Tata cara permohonan izin, bahwa IMB bisa dikaji kembali atau dibekukan alasan teknis, dan sosial. Saya sudah memperintahkan kepada dinas perizinan, untuk mengkaji 2 hal ini,” kata Bima Arya usai menemui warga, Selasa (29/8/2017).

Bima Arya menegaskan, jika secara teknis didapati ada persoalan, atau diranah sosial ada gejolak perpecahan warga, Pemkot akan membekukan izin tersebut. Setelah dibekukan, kemudian diproses lagi agar pihak masjid untuk menjawab itu. “Kalau perjalanan bisa dicairkan lagi, tapi kalau tidak, ya tidak bisa beroperasi,” jelas Bima Arya.

Akibat demo tersebut, ruas jalan di sekeliling Kebun Raya, Istana Kepresidenan dan Balai Kota Bogor macet sepanjang 5 kilometer. Dari arah Tugu Kujang yang biasanya bisa ditempuh 5 menit, menggunakan sepeda motor jadi 1 jam.  Sedangkan bagi kendaraan roda 4 yang biasanya ditempuh 15 menit, jadi 2 jam.

Tolak Pembangunan Rumah Ibadah, Ribuan Warga Demo di Balai Kota Bogor

Antrean kendaraan nampak di beberapa ruas seperti Jalan Ir H Djuanda, Jalak Hatupat, Kapten Muslihat, hingga Jalan Sudirman.

Pantauan di lapangan, antrean kendaraan telihat mulai dari Jalan Pajajaran, Jalan Otto Iskandardinata (Otista), simpang BTM menuju Balai Kota. Kemacetan juga terjadi Jalan Kapten Muslihat menuju Jalan Ir Ha Djuanda. Polisi pun membuat sekat menggunakan barier/midian jalan mengalihkan kendaraan dari Jembatan Merah melewati Jalan Dewi Sartika.

“Macetnya luar biasa, sampai 5 kilometer. Kendaraan saya sama sekali tidak bergerak,” kata Erwin (34) sopir angkot 03 dari arah Ir H Djuanda menuju Jalan Pajajaran.

Akibat banyaknya massa di balai kota, kepadatan kendataan juga berimbas hingga Jalan Sudirman dan Jalam Jalak Harupat.

Keluhan serupa diungkapkan Rosdiana (25) warga Bantarkemang, Bogor Timur, Kota Bogor. Menurutnya kemacetan seperti ini seharusnya bisa diantisipasi jika Pemkot dan aparat terkait melakukan rekayasa lalu lintas dan mensosialisasikan.

Sehingga dampak unjuk rasa di balai kota  tidak dapat mengganggu aktivitas orang tua untuk menjemput sekolah. “Ini udah jam pulang anak sekolah. Saya harus jemput anak saya yang masih TK. Mudah-mudahan cepat selesai unjuk rasanya,” harapnya.

Source: www.liputan6.com

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar