MetroIslam.com – Rusia makin memperlihatkan kebijakan tegas dan mandiri untuk menyikapi unipolaritas Amerika Serikat

Dunia satu kutub (unipolar) mulai menyurut seiring tampilnya kekuatan-kekuatan penyeimbang baru. Keadidayaan tunggal Amerika Serikat sejak keruntuhan Uni Soviet perlahan digerogoti oleh Rusia dan Cina di tingkat global, serta Venezuela dan Iran di tingkat regional. Selamat datang semesta beragam kutub (multipolar).

Kemelut AS di Irak boleh jadi merupakan salah satu sumbangan besar. Petualangan militer dengan ambisi kemaharajaan kerap berbalik menghantam dan menggugurkan negeri itu sendiri sebagaimana banyak kekuatan besar sebelumnya. Penggunaan dalih moralitas dan demokrasi justru malah menohok AS sendiri tatkala terjadi pelanggaran hak asasi manusia di Guantanamo, kesewenangan di Afghanistan dan Irak, atau standar ganda yang diterapkan terhadap Israel. Keterpurukan AS akibat makin melebarnya kesenjangan antara idealisme dan realita ditambah peranannya yang diangankan sebesar keangkuhannya, makin membuka bagi kemunculan dan kebangkitan perlawanan.

Di samping itu, beberapa negara seperti Cina, Rusia, India, Venezuela, dan Iran makin memperkuat diri sehingga makin mempertegas polarisasi dan terjadinya transformasi dari unipolaritas ke multipolarita

Salah satu negeri yang makin menunjukkan kuku tajamnya adalah si beruang Rusia. Keterpurukan ekonomi pasca-Soviet kini sudah berada di belakang mereka. Dengan efektif industri energi dirasionalisasi dan dikelola oleh BUMN yang dijadikan ujung tombak perbaikan ekonomi. Pada tahun ini, sekitar delapan tahun sesudah perkembangan ekonomi memadai, pendapatan domestik bruto Rusia sudah kembali ke tingkat tahun 1990. Rusia tak lagi menjadi pasien Dana Moneter Internasional (IMF), di ambang keanggotaan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan siap bergabung dengan kelompok elite negara ekonomi terdepan Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Sejak 2005 Rusia mengalahkan AS menjadi produser minyak terbesar kedua sesudah Arab Saudi. Pendapatan dari industri minyak mereka mencapai 679 juta dolar sehari. Banyak negara Eropa Barat bergantung pada minyak Rusia seperti hampir semua Eropa Barat tergantung pada gas Rusia. Rusia merupakan pro-duser gas terbesar di dunia yang menyumbang pada cadangan devisa sebesar 315 miliar dolar, naik dari sekitar 12 miliar pada 1999.

Seiring dengan membesarnya otot ekonomi Rusia, AS tak bisa sekadar berpangku tangan. Washington mesti menjegal si beruang bangun dari tidur. Salah satu cara adalah dengan menjadikan Polandia dan Cek ranah eksperimentasi melalui penempatan sistem pertahanan rudal yang jelas-jelas diarahkan ke Moskwa. Gedung Putih memegang erat diktum Thomas Friedman: tangan tersembunyi ekonomi mesti disokong dengan kepalan militerisme. Moskwa pun meregang otot militer lawasnya untuk balas menggertak. Jam sejarah kini seakan diputar balik ke arah era Perang Dingin. “Kami kini besar dan kaya”, jawab Putin enteng ketika dimintai komentar tentang kekhawatiran Barat terhadap Rusia.

Rusia bukan lagi beruang yang hanya loyo di kebun binatang. Kini ia tampil kembali sebagai bangsa yang bangga dan berani. Berbeda dengan negara-negara Teluk yang berfoya-foya, Rusia berhasil menginvestasikan keuntungan hasil energinya ke arah yang menguntungkan negara untuk jangka panjang. Dari infrastruktur, teknologi, hingga militer. Keuntungan ini pun memberdayakan Rusia untuk mampu tampil sebagai kekuatan penyeimbang mumpuni terhadap AS seperti dahulu. Tentunya ada perbedaan mendasar antara Uni Soviet dan Rusia.

Stalin mempersatukan Soviet di bawah Partai Komunis, Gorbachev menampilkan sosialisme humanis, Yeltsin dengan anti-komunisme berapi-api, maka Putin justru mengembalikan semangat itu ke dalam bangsa Rusia sendiri. “Kita akan melindungi negeri dari musuh eksternal dan mewujudkan tatanan global baru menggantikan tatanan yang menghinakan Rusia pada 1990an,” tegas Putin.

Maka tenaga rakyat dikumpulkan di bawah panji besar nasionalisme. Dan Rusia pun bertumbukan dengan Barat dari masalah energi, militer, Kosovo, Ukraina, Asia Tengah, Timur Tengah, rudal, hingga tak ada tempat tersisa. Putin dipuja rakyatnya setelah membantah unipolaritas AS dan berhadap-hadapan dengan Barat di setiap kesempatan.

Moskwa mendukung Serbia sebagaimana Washington melindungi Israel. Rusia menggunakan senjata pipa energi untuk menundukkan Ukraina dan Belarusia yang membangkang terhadap Moskwa. Estonia dan Latvia diancam Rusia apabila merubuhkan tugu peringatan perang Perang Dunia II yang bagi kedua negara tersebut merupakan perlambang invasi ke negeri mereka.

Rusia tidak puas sekadar berkancah di regional, dan mulai merambah politik dunia. Maka dipancangkan bendera Rusia di Kutub Utara menegaskan Arktik sebagai miliknya. Moskwa tak segan mengancam Eropa Barat yang bergantung pada energi pasokan Rusia apabila bersikukuh dengan sistem pertahanan rudal yang dianggap sebagai ancaman. Kremlin aktifkan kembali pengintaian oleh pesawat-pesawat pembom ke negara-negara Barat yang telah dibekukan sejak 15 tahun terakhir. Rusia pun menguji coba kembali ketangguhan rudal-rudal antar benua mereka. Dan berupaya menghidupkan kembali pangkalan AL mereka di Tarsus, Suriah, untuk menegaskan keberadaan mereka di Timur Tengah.

Keputusan Rusia membantu Assad di konflik Suriah pun bisa dianggap sekadar menjadikannya proksi dalam persaingannya dengan Barat. Adagium “musuhmu adalah kawanku” betul-betul diterapkan Putin.

Rusia membantu Assad karena oposisi Assad sebelumnya disokong oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Para penyokong oposisi itu berharap kejatuhan Assad karena secara geografis hal itu akan memutus aliran hubungan Teheran–Hizbullah (Lebanon).

Selama ini, poros Teheran–Damaskus–Beirut ditakutkan mengancam eksistensi si anak emas Amerika Serikat, yakni Israel di Timur Tengah. Kejatuhan Assad diharapkan memberi efek domino pada kejatuhan Iran dan Hizbullah.

Di sisi lain, negara-negara Sunni di Timur Tengah yang dipimpin Arab Saudi tak suka dengan kemajuan Iran sebagai pemimpin negara-negara Syiah. Kekuasaan Iran mengancam hegemoni Saudi di Teluk Persia.

Kepentingan negara-negara Barat menyokong Saudi tentunya berbeda dengan kepentingan Putin mendukung Suriah. Lalu, apa motif sebenarnya Putin menerjunkan pasukan di Suriah? Ditengarai, Rusia ingin menjadikan perang di Suriah sebagai panggung untuk memposisikan diri sebagai kekuatan global, selain untuk menguji kekuatan angkatan perangnya.

Ditulis oleh: Yanda Sadra

Source: www.satuislam.org

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar