MetroIslam.com – Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan Muhammadiyah secara kelembagaan tidak pernah menfatwakan Syiah sesat. Mu’ti menyampaikan hal ini menyusul kabar pria bernama Said Shamad yang mengatasnamakan  Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Makassar mempersoalkan acara Asyura – haul cucu Nabi Muhammad yang biasanya diadakan Muslim Syiah – awal Oktober lalu.

“Muhammadiyah tidak pernah membuat pernyataan bahwa Syiah adalah aliran dan paham sesat,” tegas Mu’ti kepada portal berita Islam Berkemajuan, Khittah.co, 12 Oktober. Karena itu, Mu’ti menyayangkan apabila ada warga apalagi Pimipinan Daerah Muhammadiyah yang terpengaruh atas isu-isu negatif terkait Syiah.

Mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah ini bilang, terkait dengan pemahaman agama, seharusnya warga Muhammadiyah mengikuti apa yang digariskan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di sisi lain, kata Mu’ti, pendapat pribadi tidak boleh mengatasnamakan persyarikatan.

Dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-47, Khittah.co melaporkan, organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan ini menyebut, akar konflik Sunni-Syiah sangat kompleks.  Penyebab konflik itu, antara lain, karena masalah kesenjangan ekonomi, imbas konflik politik di Irak, Syiria, dan Yaman, serta persaingan pengaruh politik-keagamaan antara Iran dengan Arab Saudi di negara-negara Muslim, termasuk di Indonesia.

Pertentangan tersebut, menurut Muhammadiyah, semakin tajam ketika ditarik ke ranah teologis dan sejarah pertumpahan darah di antara pengikut Sunni-Syiah di masa silam.

Selanjutnya, menyikapi konflik tersebut, Muhammadiyah berupaya mendorong solusi. Masih dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Ke 47, Muhammadiyah bergagasan berikut ini.

“Untuk mencegah semakin meluasnya konflik antara kelompok Sunni-Syiah di Indonesia, Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk mengadakan dialog intra umat Islam. Dialog dimaksudkan untuk meningkatkan saling memahami persamaan dan perbedaan, komitmen untuk memperkuat persamaan dan menghormati perbedaan, serta membangun kesadaran historis bahwa selain konflik, kaum Sunni dan Syiah memiliki sejarah kohabitasi dan kerjasama yang konstruktif dalam membangun peradaban Islam (halaman 113–114).”

Lebih lanjut, Muhammadiyah juga mengajak umat Islam untuk bersikap arif, menghormati semua sahabat dan keluarga Nabi Muhammad dengan tetap memegang teguh kemurnian akidah sehingga tidak terjebak pada pengkultusan individu.

Sebagai kekuatan Muslim terbesar di dunia, menurut Muhammadiyah, umat Islam Indonesia harus tampil sebagai penengah dan inisiator dialog. Membawa konflik negara lain ke Indonesia atas dasar sentimen golongan berpotensi merusak persatuan umat dan bangsa serta lebih jauh dapat melemahkan diri di tengah percaturan politik global.

Sebagai penutup bagian pembahasan perihal konflik Sunni-Syiah ini, Muhammadiyah mengimbau kepada Pemerintah Indonesia untuk mengambil prakarsa dialog di atas prinsip politik bebas aktif dan perjuangan menciptakan perdamaian dunia.

Source: www.khittah.co

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar