MetroIslam.com – Kali ini kita akan mengupas sebuah ayat yang sangat indah. Dimulai dengan sebuah pertanyaan yang menusuk,

“Tidakkah kalian penasaran dengan mereka yang begitu banyak amalnya tapi menjadi orang yang paling rugi?”

Banyak amal identik dengan banyak hasil atau banyak pahala. Tapi kali ini tidak, perbuatannya banyak tapi menjadi golongan manusia yang paling merugi.

Simak firman Allah berikut ini,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا

Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (QS.Al-Kahfi:103)

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. (QS.Al-Kahfi:104)

Memang secara dhohir ayat ini ditujukan untuk orang-orang musyrik. Namun makna ayat ini umum dan mencakup orang beriman sekalipun.

Siapa orang yang paling merugi tersebut?

Mereka adalah orang-orang yang malang, amal mereka menumpuk tapi jalan mereka salah di dunia ini. Dan lebih parahnya, mereka merasa telah berbuat yang benar dan terbaik.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat. (QS.Al-Kahfi:105)

Jika kita perhatikan ayat ini, bukan hanya amal yang sia-sia. Bahkan Allah tidak menganggap amalan mereka itu ada.

“Dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.”

Siapakah mereka?

Siapakah yang bahkan amalnya tidak ditimbang karen tak bernilai sama sekali?

Lalu bagaimana amal seseorang itu menjadi debu yang terbang dan menghilang sia-sia?

Pengingkaran ! Ya, pengingkaran lah (atau biasa disebut kekufuran) yang membuat amal mereka sia-sia. Karena seorang yang kufur tidak memiliki jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan amalan mereka tak ada artinya sama sekali.

Tak hanya orang kafir, mereka yang beriman pun bisa kehilangan seluruh amalnya bila dia beramal bukan untuk Allah swt.

Sebenarnya, suatu perbuatan itu tidak pernah abadi. Ketika dilakukan, selesai dan selesai. Nah, yang membuatnya abadi adalah ketika kita melakukannya untuk Allah swt, Sumber Keabadian. Jika tidak diniatkan untuk Allah, cepat atau lambat hasil perbuatan itu akan sirna.

Karena itu, sebelum kita berpikir untuk melakukan sesuatu hendaknya kita menyiapkan wadah untuk perbuatan ini. Karena segala sesuatu memiliki bahan dan bentuknya. Bahan dari amal kita adalah sedekah, puasa, solat dan kebaikan yang lain. Sementara semua itu akan memiliki bentuk dan hasil ketika kita niatkan untuk Allah. Semua perbuatan itu akan abadi.

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS.Al-Kahfi:110)

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merasa paling banyak beramal, namun pada akhirnya menjadi manusia paling merugi.

Source: www.khazanahalquran.com

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar