MetroIslam.com – Bolivia adalah salah satu negara yang terletak di kawasan benua Amerika, khususnya Amerika Latin. Di negara ini, terdapat sekitar seribu umat Muslim. Namun, geliat dan perkembangan Islam sangat pesat dan hubungan Bolivia dengan negara-negara Muslim dan Timur Tengah berjalan sangat harmonis.

Kondisi ini membuat otoritas keamanan Amerika Serikat (AS) memberikan perhatian serius terhadap keberadaan umat Muslim di sana. Era tahun 70-an, cahaya Islam mulai bersinar di negara berpenduduk 9,7 juta jiwa itu.

Hal tersebut–salah satunya–ditandai dengan tumbuhnya organisasi keislaman di beberapa wilayah. Antara lain, Centro Islamico Boliviano di Santa Cruz, Centro Islamico Boliviano di Sucre led yang dipimpin oleh Imam Hassan Tawafshah, Centro Islamico Boliviano di Cochabamba yang dipimpin Imam Daud Abujder, serta Musulmana Casilla di Kota Sucre.

Masjid besar pertama dibangun pada 1994. Tempat peribadatan ini difungsikan dua tahun kemudian. Lokasinya ada di Kota Santa Cruz. Sejak itu, berdiri beberapa masjid lain, termasuk masjid as-Salam di La Paz, yang dibangun tahun 2006 lalu.

Karena itu, meski minoritas, tidaklah mengherankan bila posisi umat Muslim tidak inferior. Seperti dapat disaksikan di Santa Cruz. Warga setempat sudah terbiasa mendengarkan kumandang azan dari masjid yang terdapat di sana.

Azan adalah panggilan shalat bagi umat Islam. Sebelumnya, tidak ada seorang pun membayangkan bisa mendengar suara azan di kota yang dihuni oleh mayoritas warga non-Muslim itu.

Sekolah-sekolah Islam juga dibuka. Demikian pula, Islamic Center di Santa Cruz melengkapi geliat keislaman di Bolivia. Institusi ini kerap menyelenggarakan kegiatan keagamaan bagi seluruh warga Muslim.

Tak hanya bagi warga Muslim. Islamic Center juga terbuka bagi kalangan non-Muslim, warga kulit putih, seperti orang-orang Amerika dan Eropa, atau yang berkulit cokelat seperti penduduk asli Bolivia.

Di bawah kepemimpinan Presiden Evo Morales yang berkuasa sejak 2005, kebebasan beragama tetap dijamin. Hampir tidak ada tekanan terhadap kaum minoritas. Kondisi tersebut akhirnya mendorong lebih pesatnya perkembangan agama Islam.

Interaksi antarpemeluk agama berjalan lancar. Pemimpin dan tokoh umat beragama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Yahudi, dan penganut kepercayaan kerap menggelar pertemuan rutin.

Namun, muncul perubahan kebijakan negara. Pemerintah sayap kiri menggagas reformasi sosialis propribumi. Seiring itu, hubungan dengan AS renggang.

Source: www.republika.co.id

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar