MetroIslam.com – Majelis Silahturahim Nasional dideklarasikan pada acara Zikir dan Silaturahim Akbar untuk Nusantara Berkah bertema, “Dari Santri untuk NKRI” di kampus Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Jawa Barat, Ahad (29/10). Dalam petikan deklarasi tersebut disebutkan, keragaman dan perbedaan harus dijadikan pijakan dasar dalam mewujudkan tatanan kebangsaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diridhai Allah SWT.

Rais Am PBNU sekaligus Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin mengatakan, pesantren merupakan satu pilar dalam menjaga keragaman dan perbedaan. Kiai Ma’ruf juga berharap. pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Metode pendidikan di pondok pesantren harus terus diperbaharui dengan mengikuti perkembangan teknologi,” kata Kiai Ma’aruf dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Senin (30/10).

Untuk itu, Kiai Ma’aruf mejelaskan, teknologi juga dapat menjadi wadah pengkaderan para santri. Sehingga, santri handal dalam penguasaan teknologi. Serta dapat menjadi pemimpin yang menjadi panutan bagi bangsa Indonesia.

“Kalau santrinya pintar, maka nanti akan menjadi kyai yang pintar dan jadi teladan. Bukan cuma umat Islam tapi teladan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” imbuh Kiai Ma’aruf.

Dengan hadirnya kiai yang pintar dan menguasai teknologi, lanjutnya, maka bangsa Indonesia akan senantiasa berada dalam situasi yang damai, aman, dan menyejukkan. Karena akan selalu ada kiai yang mampu meredam dan menjauhkan masyarakat dari ajaran radikal dan intoleran.

“Siapapun yang berniat merusak negara, akan berhadapan dengan kyai dan santri NU,” tutur Kiai Ma’aruf

Menteri Komunikasi dan Informasi Rudi Antara menambahkan, perkembangan teknologi di Indoensia, terutama media sosial, selalu memiliki dua sisi. Yakni, sisi baik dan sisi buruk. Saat ini sisi buruk teknologi lebih mendominasi dunia digital, dengan banyak beredarnya berita hoax atau palsu.

Kondisi ini, kata Rudi, sangat berbahaya. Mengingat, tingkat literasi atau pengetahuan masyarakat tentang media sosial masih rendah.

Sehingga, pemerintah perlu mengajak semua elemen bangsa, terutama umat islam atau para santri sebagai umat terbesar di Indonesia, untuk sama-sama proaktif dalam mencegah hal-hal negatif di media sosial.

Rudi mencontohkan riset di bidang ekonomi. Riset membuktikan bahwa pada rentang 2014 – 2016, keyword (kata kunci) yang paling banyak dicari di google berkaitan dengan fashion adalah hijab. Mencapai 1,2 milyar pencarian.

“Hal ini jadi bukti bahwa banyak hal positif yang bisa dilakukan umat Islam melalui media sosial di bidang ekonomi,” papar Rudiantara.

Santri saham terbesar raih kemerdekaan

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, komitmen NU terhadap kelangsungan hidup NKRI merupakan fondasi yang dibangun dengan susah payah oleh seluruh elemen bangsa, termasuk para santri. “Sepanjang sejarah negara Indonesia, para santri memiliki saham terbesar dalam meraih kemerdekaan bersama dengan komponen bangsa lainnya,” ujarnya.

Apalagi, saat ini pemerintah telah menetapkan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober. Sehingga, diharapkan menjadi cambuk bagi para santri untuk terus menperkuat dan melengkapi diri.

Menurut Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, para santri juga perlu melakukan pengembangan ilmu keislaman yang berbasis teknologi digital. Dalam era globalisasi saat ini, kata dia, penguasaan dan pemahaman teknologi digital merupakan hal yang wajib dimiliki oleh para santri.

Jika teknologi digital sudah dikuasai oleh santri NU, maka ilmu keislaman para santri akan berkembang luar biasa. Serta, paradigma agama Islam yang rahmatan lil alamin akan semakin tersebar ke seluruh penjuru dunia.

“Insya Allah,dengan penguasaan teknologi digital oleh para santri, dimasa depan kita akan menguasai dunia,” tutur pria yang akrab disapa Kang Emil itu.

Sementara itu, Ketua PWNU Jabar, KH. Hasan Nuri Hidayatullah, menambahkan, para santri semestinya berperan besar dalam mengisi kemerdekaan. Khususnya, sebagai jembatan bagi semua komponen bangsa. Tujuannya, untuk membangun Indonesia sesuai dengan nilai-nilai ukhuwah yang merupakan pedoman para santri.

“Jika nilai-nilai ukhuwah diterapkan dalam kehidupan bangsa Indonesia, saya yakin Indonesia akan tahan terhadap berbagai ancaman dan hidup tenang dalam bingkai NKRI,” demikian Hasan. Rahmat Fajar.

Source: www.republika.co.id

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar