MetroIslam.com – Peneliti senior LIPI, Ahmad Najib Burhani menilai, ancaman melemahnya Islam moderat bisa dilihat dari tersebarnya dai dan mubalig instan, infiltrasi pandangan non-wasathiyya (moderat) ke NU dan Muhammadiyah dengan agenda yang bertentangan dengan semangat untuk hidup dalam masyarakat majemuk.

“Serta instant-learning agama karena media sosial dan teknologi informasi,” katanya.

Seperti diketahui, untuk mengidentifikasi Islam wasathiyya (Islam moderat) adalah bisa dilihat dari sikap tasamuh (toleransi), tawazun (berimbang), dan i’tidal (adil). Ini misalnya diwujudkan dalam menyikapi dan menghargai perbedaan.

“Imam Syafii, yang menjadi panutan dalam bidang fikih oleh kelompok muslim moderat, dikenal dengan qaul qadim (pendapat lama) dan qaul jadid (pendapat baru) yang menunjukkan kesediaan berubah dan menerima perbedaan jika ada argumen yang lebih kuat,” katanya.

Mengikuti tradisi ulama, pesantren, lanjut Najib, kita memahami betul semboyan qauluna shahih yahtamilul khata’, qauluhum khata’ lakin yahtamilul shahih(pandangan kita benar, tapi bisa jadi mengandung kesalahan. Pandangan mereka salah, tapi bisa jadi mengandung kebenaran).

“Ini adalah refleksi tentang penghargaan terhadap mereka yang berbeda pandangan, termasuk dalam isu-isu yang serius,” kata pria yang juga pengurus PP Muhammadiyah ini

Menurut Najib, nilai-nilai moderatisme itu yang belakangan terasa hilang. Karena berbeda pandangan, ada kader Muhammadiyah yang secara kurang tawadhu’ menyebut Prof. Ahmad Syafii Ma’arif bicara ”ngelantur ”.

“Ada pula yang memplesetkan Buya menjadi buaya atau menyebutnya ”tua bangka”, ”bau tanah”, dan ”sudah mau mati”,” katanya.

Sedemikian sehingga, salah satu tantangan nyata terhadap otoritas keagamaan tradisional, yang menjadi fondasi bagi Islam moderat, adalah apa yang dialami oleh Buya Syafii Maarif.

Tokoh yang sejak kecil belajar agama dalam sistem pendidikan Islam di Minangkabau, dilanjutkan dengan sekolah guru di Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, dan menempuh pendidikan doktoral dalam kajian Islam di Universitas Chicago, tiba-tiba dipertanyakan otoritasnya berbicara agama oleh mereka yang baru kemarin sore belajar Islam.

“Ini sesuatu yang sangat menggelikan, namun betul-betul terjadi,” kata Najib.

Buya Syafii yang selama delapan tahun (1998-2005) dipilih untuk memimpin Muhammadiyah, organisasi modernis terbesar di Indonesia dengan puluhan juta anggota, tiba-tiba dipertanyakan kredibilitasnya dalam memahami Alquran oleh mereka yang membaca Alquran pun barangkali belum fasih.

“Orang-orang yang belajar Islam melalui Google, Facebook, dan Twitter tiba-tiba merasa lebih mengerti Islam daripada imam dari jutaan jamaah Muhammadiyah.”

Mereka, menurut Najib, lebih percaya dan menggandrungi kelompok celebrity preachers yang memiliki pengetahuan agama dangkal, tapi penampilannya penuh dengan aksesoris dan simbol-simbol agama, atau lebih tepatnya simbol Arab.

“Mereka bahkan sering menjadikan kelompok ”ulama” ini sebagai kiblat dalam beragama.”

Najib menyebut, fenomena yang dialami Buya Syafii ini oleh Julia Day Howell dianggap sebagai pergeseran otoritas keagamaan dari high-brow (terdidik dan berpengetahuan) ke low-brow (dadakan, namun gemerlapan) karena ada revolusi teknologi informasi.

“Terutama televisi dan media sosial,” katanya.

Yang menjadi daya tarik dari agamawan baru ini bukanlah kedalaman pengetahuan, tapi performance dan entertainment yang didukung oleh media. Berkaitan dengan revolusi teknologi informasi dan komunikasi, tentu saja diakui bahwa ia memudahkan manusia dalam memperoleh data, memberikan akses terhadap sesuatu yang sebelumnya hanya dimiliki oleh kalangan tertentu.

“Namun, kelemahannya, seringkali informasi dan data yang kita peroleh sebetulnya hanyalah yang sesuai dengan keinginan kita,” katanya

Data yang kita peroleh adalah yang sesuai dengan status yang kita buat, info yang kita cari, dan teman yang kita miliki. Intinya, apa yang kita dapat adalah yang sesuai dengan algoritma pikiran kita selama ini.

“Sehingga, jika teman-teman kita adalah kelompok liberal atau konservatif, info yang lebih banyak masuk tentu saja sesuai dengan algoritma itu.”

Ini yang membuat orang tanpa mengecek dulu siapa Buya Syafii Maarif dengan mudahnya membagi dan retweet berbagai meme jahat tentang Buya.

Source: www.islamindonesia.id

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar