MetroIslam.com – Baru-baru ini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut kelompok perlawanan Hizbullah Lebanon merupakan ancaman bagi seluruh Timur Tengah.

“Hizbullah adalah ancaman bagi negara Lebanon, rakyat Lebanon dan seluruh wilayah. Kelompok ini terus meningkatkan persenjataan militernya yang mengancam untuk memulai lagi konflik dengan Israel,” kata Trump seperti dikutip dari Al Arabiya, Rabu 26 Juli 2017.

Kelompok perlawanan yang  dituding Trump sebagai teroris itu kini sedang melancarkan operasi militer terhadap kelompok teroris Front al-Nusra di daerah Jaroud Arsal, wilayah timur Lebanon. Akibatnya operasi militer itu,  rezim Zionis semakin ketakutan menghadapi gerakan maju Hizbullah.

Mengutip dari farstoday.com, Televisi al-Manar melaporkan, rezim agresor Israel semakin ketakutan menyikapi kemenangan operasi militer gerakan Hizbullah menghadapi kelompok teroris Front al-Nusra di wilayah Jaroud Arsal.

Baru-baru ini, sebuah tulisan yang dibawa oleh seorang pejuang Hizbullah tertulis, “Gerakan Muqawama siap untuk masuk ke wilayah al-Jalil di Palestina pendudukan dalam pertempuran dengan Jabhah al-Nusra,”.

Rezim Zionis khawatir pasukan Hizbullah Lebanon  akan memasuki wilayah al-Jalil di Palestina pendudukan dalam perang mendatang.

Boris Dolgov, pengamat dari Pusat Studi Arab untuk Studi Arab dan Islam Timur Tengah menyatakan, Tel Aviv mendukung kelompok militan seperti Front al-Nusra dan ISIS , yang sedang diperangi Rusia dan Suriah.

Seperti dilansir Sputnik pada Senin 17 Juli 2017, dukungan itu, menurut Dolgov, bisa dilihat dari keputusan Israel untuk menolak gencatan senjata Suriah antara Rusia-AS. Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memang telah menegaskan menolak gencatan senjata baru di Suriah, yang baru disepakati Amerika Serikat (AS) dan Rusia.

“Israel lebih dan lebih ‘terlibat’ dalam konflik Suriah. Keterlibatan ini terdiri dari dukungan Israel untuk kelompok bersenjata yang berperang melawan pemerintah Bashar al-Assad di Dataran Tinggi Golan,” kata Dolgov.

“Israel secara resmi mengakui, militan dari kelompok ini menerima perawatan medis di rumah sakit Israel. Mereka menjelaskan hal ini melalui fakta  militan ini berperang melawan Hizbullah, yang dianggap Israel sebagai kelompok teroris,” sambungnya.

Hizbullah, kata Dolgov, telah aktif dalam melawan kelompok-kelompok teroris, termasuk Front al-Nusra di Suriah selatan. Dia menyebut, salah satu alasan Israel menolak gencatan senjata itu, karena Tel Aviv tidak lagi bisa menyerang Hizbullah atau kelompok lain yang di dukung Iran di Suriah.

“Israel, tampaknya tidak setuju dengan fakta sebagai hasil kesepakatan gencatan senjata, tindakan militan terhadap Hizbullah akan dihentikan. Ini menunjukkan bahwa Israel telah memihak kelompok-kelompok ini,” ungkapnya.

“Itu berarti Israel, yang secara aktif ikut campur dalam konflik Suriah, telah mengambil bagian dari kelompok-kelompok yang AS dan Rusia anggap sebagai organisasi teroris,” tukasnya.

Source: www.satuislam.org

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar