MetroIslam.com – Seorang warga Inggris yang bertempur melawan kelompok yang menamakan diri Negara Islam di Irak danSuriah ( ISIS) di Suriah menembak dirinya sendiri untuk menghindari penangkapan oleh militan kelompok paling kejam tersebut.

Hal ini terungkap setelah pihak berwenang di Inggris menggelar penyelidikan resmi untuk mengetahui sebab-sebab kematian laki-laki bernama Ryan Lock tersebut.

Kematiannya terjadi pada Desember 2016 saat Lock – yang  bertempur bersama pejuang Kurdi dari Unit Pertahanan Rakyat (YPG) – terlibat pertempuran melawan milisi ISIS di Raqqa, kota di Suriah yang ditetapkan ISIS sebagai ibu kota “kekhalifahan” mereka.

Lock bersama petempur YPG terkepung dan dalam keadaan terluka. “Ia tak siap untuk membiarkan dirinya ditangkap (oleh militan ISIS) … ia menggunakan senjatanya (untuk menembak dirinya sendiri). Ini adalah tindakan yang sungguh berani,” kata David Horsley, petugas yang melakukan pemeriksaan jenazah.

Baca: Tak Rela Ditawan ISIS, Pejuang Wanita Kurdi Bunuh Diri

Ia juga menyebut apa yang dilakukan Lock “sebagai hal yang heroik”. “Ia meninggal dunia demi sesuatu yang sangat ia yakini,” kata Horsley.

Ahli patologi yang memberikan keterangan dalam pemeriksaan resmi di Portsmouth, dokter Basil Purdue, mengatakan, Lock meninggal akibat luka tembak dengan satu peluru di bagian kepala.

Tak punya pengalaman militer

Lock dikenal sebagai juru masak di Chichester dan tak pernah mendapatkan pelatihan militer sebelum pergi ke Suriah untuk bergabung melawan kekuatan anti-ISIS.

Kepada keluarga ia mengaku liburan di Turki sebelum akhirnya mengaku melalui pesan-pesan di Facebook bahwa ia berada di Suriah. Melalui Facebook pula, Lock mengirim foto-fotonya mengikuti pelatihan militer, namun tak pernah mengatakan bahwa ia terlibat pertempuran melawan ISIS.

Setelah hilang kontak selama beberapa waktu, ayah Lock, Jon Plater, menemukan foto di internet yang memperlihatkan seorang petempur ISIS berdiri di samping jenazah Lock di Raqqa.

Baca: Perbudakan Seksual Dorong Korban ISIS Bunuh Diri

Ibu Lock, Catherine, mengatakan sebelum berangkat ke Suriah Lock kadang menyinggung situasi di Suriah yang ia gambarkan sangat mengenaskan. Lock juga menjadi pendiam dan tak banyak bicara.

“Saya sebenarnya sedikit curiga, tapi saya tak bisa memastikan kenapa ia berubah seperti itu,” kata Catherine.

Saat Lock kemudian mengaku berada di Suriah dan bergabung dengan YPG sebagai juru masak dan anggota tim medis, Catherine mengaku sangat panik.

Perasaannya ini tidak ia ungkapkan karena khawatir Lock akan memutus komunikasi. “Saya katakan saya bangga dengan dia tapi saya juga memintanya untuk pulang,” kata Catherine.

Source: www.kompas.com

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar