MetroIslam.com – Di Indonesia, Iran hanya dikenali oleh sebagian muslim sebagai negeri Syiah. Anggapan semacam ini memang  tidaklah seratus persen salah meski juga tidak seratus benar. Meski dalam penyelenggaraan negara, Iran mengakomodir berbagai keyakinan di parlemen melalui perwakilan, namun tak bisa dipungkiri bahwa sebagian muslim Indonesia menganggap kelompok minoritas di Iran termarginalkan.

Yang patut disayangkan adalah ketika berhubungan dengan Indonesia, banyak muslim yang tidak memahami posisi hubungan bilateral dua negara. Kerjasama ekonomi pun dipersepsi oleh  mereka sebagai upaya syiahisasi.

Sebagaimana Iran, Rusia juga difahami sebagian muslim Indonesia sebagai negara komunis yang anti Islam. Entah mereka tidak tahu bahwa Rusia berbeda dengan eks Uni Soviet, ataukah mereka sengaja menutup telinga terhadap informasi, yang bisa ditangkap ketika berhubungan dengan Indonesia, apalagi penyelenggara negara ini lawan politiknya maka muncul stigma Indonesia telah bermitra dengan komunis.

Apa yang harus mereka katakan ketika mendapati Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang Sunni dan telah dijadikan tokoh oleh sebagian muslim itu melakukan kunjungan ke Iran? Atau apa yang harus mereka katakan ketika Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz bertolak ke Rusia untuk menemui Presiden Vladimir Putin?

Sebagaimana diberitakan, Rabu, 4 Oktober 2017 lalu, Erdogan menggelar pembicaraan penting dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani. Mereka akan berbicara mengenai hasil referendum Irak dan masalah keamanan regional lainnya.

Sebagaimana dilaporkan Aljazieera, kunjungan Erdogan ke Teheran terjadi saat Ankara terus mencari konsensus regional mengenai cara untuk menghentikan upaya Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) untuk berpisah dari Irak. Tentu saja Erdogan kuatir pengaruh tuntutan referendum Kurdistan di Irak akan merembet ke negaranya.

Turki dapat memanfaatkan hubungan dengan Iran untuk memberi tekanan lebih besar pada KRG untuk mundur dari rencananya mendeklarasikan sebuah negara merdeka. Pada Senin, Erdogan mengirim Jenderal Hulusi Akar, Kepala Staf Umum militer, ke Teheran, kunjungan pertama untuk seorang pejabat militer Turki sejak Revolusi Islam 1979.

Pada pertemuan mereka, Akar dan kepala militer Iran, Mohammed Hussein Bagheri, mengecam referendum Kurdi sebagai inkonstitusional. Pada Agustus, Bagheri juga menjadi pejabat militer pertama yang pernah mengunjungi Ankara sejak tahun 1979. Iran, Turki bersumpah untuk bersama dengan Irak melawan kemerdekaan Kurdi.

Akar juga mengadakan pembicaraan terpisah dengan Presiden Rouhani. Pada pertemuan tersebut keduanya memperingatkan kemunduran batas geografis, jika terjadi perpecahan KRG dari Irak dan itu akan membahayakan keamanan serta stabilitas regional.

Sementara itu, Akar mengatakan Turki dan Iran, akan memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan ini dengan meningkatkan kerja sama menyusul referendum Kurdi.

Berbeda dengan Erdogan, kunjungan tokoh lain sebagian muslim Indonesia, yaitu Raja Salman dilakukan di tengah upaya PBB memasukkan Arab saudi ke dalam daftar hitam lembaga internasional itu. PBB beralasan karena koalisi pimpinan Arab Saudi dalam serangannya ke Yaman telah menyebabkan pembunuhan dan melukai anak-anak.

Kunjungan itu juga di tengah upaya Saudi untuk membeli istem pertahanan rudal canggih S-400 senilai USD3 miliar atau lebih dari Rp40 triliun. Kesepakatan tercapai saat kunjungan bersejarah Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Moskow.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengatakan kepada media pertemuan antara Presiden Vladimir Putin dan Raja Salman berfokus pada persamaan antara kedua negara. Pernyataan Lavrov diperkuat oleh Adel al-Jubel, yang mewakili Kerajaan Arab Saudi. Al-Jubel bahkan menyebut hubungan kedua negara sebagai horison baru.

“Hubungan antara Rusia dan Arab Saudi telah mencapai sebuah momen historis. Kami yakin bahwa penguatan lebih lanjut hubungan Rusia-Arab Saudi akan memiliki dampat positif pada penguatan stabilitas dan keamanan di (kedua) kawasan dan dunia,” kata al-Jubel melalui seorang penerjemah.

Hubungan kedua negara di masa lalu sering menegang. Selama masa Perang Dingin, Arab Saudi membantu mempersenjatai pemberontak Afghanistan melawan invasi Uni Soviet, yang kemudian bubar dan salah satu bagiannya menjadi Rusia saat ini.

Baru-baru ini, hubungan Arab Saudi dan Rusi kembali menegang karena perang di Suriah. Namun hubungan kedua negara mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan pewaris tahta Raja Salma, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menggelar beberapa pertemuan dengan Putin

Dalam perspektif kepentingan negara, situasi telah memaksa suatu negara untuk memutus ataupun menormalisasi hubungan antar negara. Bahkan meski hubungan antar negara itu mencapai klimaks permusuhan sekalipun, tapi dunia yang bulat itu tak pernah membuat suatu entitas semacam negara pun untuk bersikap tetap. Apalagi jika motif hubungan bilateral, pemutusan hubungan, dan normalisasi hubungan adalah karena politik, sebab politik basis hubungannya tetaplah kepentingan. Karena kepentingan maka tak ada musuh dan teman yang abadi.

Kebijakan luar negeri Teheran dan Ankara berada di posisi yang berlawanan dalam perang Suriah, sebagaimana kebijakan antara Moskow dan Riyadh. Iran dan Rusia  mendukung Presiden Bashar Assad , sementara Turki dan Arab Saudi mendukung oposisi dan teroris baik ISIS, Front Al-Nusra ataupun kelompok teror lainnya. Akan tetapi Iran dan Turki bermitra dalam perdagangan, sebagaimana Rusia dan Saudi  yang bermitra dalam perdagangan minyak.

Lalu apakah Erdogan yang melakukan lawatan ke Iran dan Raja Salman yang terbang ke Moskow tetap dipersepsi secara teologis? Akankah kelompok muslim itu mengatakan Erdogan telah menjadi antek Syiah dan Raja Salman telah menjadi antek Komunis?

Source: www.satuislam.org

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar