MetroIslam.com – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengajukan banding ke militan Islam pada Jumat (26/5), untuk meninggalkan permusuhan dan memulai dialog guna mengakhiri konflik berdarah. Konflik di sebuah kota di selatan itu menjadi pukulan besar terhadap keamanan regional.

Ia mengatakan, kehadiran pejuang asing dalam pertempuran yang telah berkecamuk sejak Selasa di Kota Marawi adalah bukti militan ISIS telah mendapatkan pijakan di pulau Mindanao yang bergolak. Namun, masih ada kesempatan untuk berdamai.

“Pesan saya, terutama kepada para teroris adalah kita masih bisa menyelesaikan ini melalui dialog, dan jika Anda tidak dapat diyakinkan untuk berhenti bertarung, biarlah. Mari kita bertarung saja,” katanya.

Pasukan khusus dikerahkan untuk mengusir 20 sampai 30 kelompok pemberontak Maute di Marawi. Namun menghadapi perlawanan berat pada Jumat (26/5). Militer mengatakan, 11 tentara dan 31 gerilyawan tewas.

Pertarungan meletus pada Selasa setelah sebuah serangan oleh pasukan keamanan di tempat persembunyian Maute. Orang-orang bersenjata menguasai jembatan, jalan dan bangunan. Mereka memabawa sandera orang-orang Kristen. Duterte pun menanggapi kejadian tersebut dengan mengumumkan darurat militer di seluruh pulau Mindanao.

Warga Malaysia, Indonesia, dan orang asing lainnya, termasuk di antara gerilyawan yang tewas pada Kamis (24/5). Menurut pemerintah, hal tersebut menunjukkan bagaiamana Filipina bisa menjadi tempat berlindung bagi militan asing.

Duterte telah memperingatkan ‘kontaminasi’ oleh ISIS, mengeksploitasi kemiskinan, pelanggaran hukum, dan perbatasan berongga di daerah berpenduduk mayoritas Muslim pulau Mindanao untuk mendirikan basis bagi kaum radikal Asia Tenggara dan sekitarnya. Gedung Putih mengatakan, pihaknya mendukung pertarungan Filipina melawan ‘teroris pengecut’.

Source: www.republika.co.id

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar