MetroIslam.com – Sebelum konflik meletus, Aleppo dikenal sebagai kota industri dan perdagangan. Kota ini menghasilkan kain sutra dan katun, memperdagangkan wol, kulit, dan buah-buahan.

Aleppo mempunyai bangunan-bangunan yang penting untuk pengetahuan ilmu purbakala. Salah satu bangunan yang mengagumkan adalah Benteng Aleppo. Selain merupakan benteng pertahanan, benteng ini juga memperlihatkan segi-segi ilmu bangunan yang serbamenarik.

Dalam Encyclopedia of the Ottoman Empire dijelaskan Aleppo memang dikenal sebagai tempat perdagangan sepanjang sejarah. Tradisi komersial di Aleppo memiliki akar yang mendalam dalam sejarah. ‘Kamar Dagang Aleppo’ didirikan pada 1885, yang merupakan salah satu organisasi tertua di Timur Tengah dan dunia Arab.

Menurut banyak sejarawan, Aleppo adalah kota komersial dan industri yang paling berkembang di
Kekaisaran Ottoman setelah Konstantinopel dan Kairo.

Menjadi daerah perkotaan terbesar di Republik Suriah, ekonomi Aleppo didorong oleh tekstil, bahan kimia, farmasi, industri agro, elektrik, teknik, dan pariwisata. Industri ini merupakan pusat manufaktur dominan negara, dengan pangsa lebih dari 50 persen dari tenaga kerja manufaktur dan pangsa ekspor.

Aleppo juga merupakan pusat utama untuk pembuatan logam mulia dan batu. Jumlah emas tahunan yang  diproduksi di Aleppo adalah sekitar 8,5 ton. Angka ini menyumbang hingga 40 persen dari seluruh emas yang diproduksi di Suriah.

Source: www.republika.co.id

Komentari artikel ini secara ilmiah dan berahlak

komentar